Nilai-nilai Kami

1
Truth (Kebenaran)
Truth merepresentasikan jati diri kita yang sesungguhnya, yaitu siapa diri kita sebagai manusia, yang tidak terbatas hanya pada nama, jenis kelamin, atau ras, tetapi juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendalam seperti, “Siapakah saya?”, “Apa makna kehidupan?”, “Apa tujuan hidup saya?”, atau “Dari mana saya berasal?”. “Siapa” diri kita akan tetap sama meskipun kita kehilangan bagian dari tubuh kita. Dengan kata lain, truth dapat diartikan sebagai “jiwa” atau “hati nurani” kita.
2
Right Conduct (Perilaku Benar)
Right Conduct merupakan perwujudan dari Truth dalam tindakan. Setelah memahami kebenaran, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, nilai-nilai luhur merupakan hal yang sudah ada di dalam diri kita, namun cara mengekspresikan nilai tersebut dapat berbeda pada setiap individu. Right Conduct adalah bagaimana nilai tersebut diekspresikan dalam tindakan nyata. Sebagai contoh, jika saya adalah seorang ibu (truth), maka saya perlu menjalankan peran sebagai ibu dengan merawat anak saya (right conduct), terlepas dari peran lain saya sebagai seorang karyawan. Kebenaran bahwa saya adalah seorang ibu tetaplah sama, meskipun cara setiap ibu menjalankan perannya dapat berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa nilai dapat diekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Untuk memahami Right Conduct, seseorang perlu hadir sepenuhnya pada saat ini agar mampu berpikir, bertindak, dan merespons dengan tepat pada waktu yang tepat.
3
Peace (Kedamaian)
Peace merepresentasikan rasa tenteram dan puas yang kita miliki dalam diri sendiri. Ketika kita mampu bertindak dengan benar pada saat ini dan terhubung dengan hati nurani kita, maka kedamaian akan muncul. Dengan kata lain, truth yang dipadukan dengan right conduct akan menghasilkan kedamaian. Sebagai contoh, ketika saya sedang menjalankan peran sebagai ibu di hadapan anak saya, saya seharusnya tidak memikirkan tenggat pekerjaan yang saya miliki karena hal tersebut akan memengaruhi kehadiran saya bersama anak. Ketika seseorang mengalami konflik di antara berbagai peran yang dimilikinya, ia akan sulit merasakan ketenangan dan kepuasan batin. Oleh sebab itu, kedamaian pun tidak dapat tercapai.
4
Love (Kasih)
Love mengacu pada perasaan yang seharusnya menjadi kekuatan pendorong di balik setiap hal yang kita lakukan. Kasih di sini tidak terbatas pada perasaan terhadap keluarga, pasangan, teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Kasih merujuk pada energi yang mengalir dari hati yang murni — tanpa syarat, penuh ketulusan, dan tidak mementingkan diri sendiri. Ketika energi kasih tumbuh dalam diri kita, maka tidak akan ada kebencian maupun bentuk energi negatif lainnya. Dengan kasih sebagai dasar dari setiap tindakan, apa yang kita lihat, lakukan, dan rasakan akan menjadi wujud dari emosi yang murni.
5
Non-Violence (Tanpa Kekerasan)
Non-Violence mengacu pada tindakan yang tidak merugikan atau menyakiti. Non-violence merupakan puncak dari seluruh nilai yang telah dijelaskan sebelumnya. Ketika seseorang dipenuhi dengan kedamaian dan kasih, serta dipandu oleh hati nuraninya (truth), maka ia tidak akan bertindak menyakiti orang lain maupun dirinya sendiri. Salah satu cara untuk menerapkan nilai ini adalah dengan menjalani segala sesuatu secara seimbang dan secukupnya dalam setiap aspek kehidupan. Sebagai contoh, ketika makan, seseorang akan sakit jika makan berlebihan, tetapi juga akan lemas jika tidak makan dengan cukup. Kedua tindakan tersebut berarti merugikan diri sendiri dan kesehatan, sehingga tidak mencerminkan praktik non-violence. Untuk menerapkan non-violence dalam situasi ini, seseorang perlu makan dalam jumlah yang “cukup” — tidak berlebihan dan tidak kekurangan — agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam berbagai aspek lain, seperti penggunaan listrik, air, kata-kata, dan lain sebagainya.

Selain itu, jika pikiran sadar (Kepala) merujuk kemungkinan tindakan kepada ‘batin’ (Hati), maka tindakan yang dihasilkan akan menjadi tindakan yang benar (Tangan). Oleh karena itu, keselarasan Kepala, Hati, dan Tangan harus menjadi dasar dari semua ucapan dan tindakan kita.